• SMP NEGERI TUJUH MARET HADAKEWA
  • CERIA BERKARYA: Cerdas, Beriman, Berkarakter dan Berbudaya

TERIMA KASIH TELAH MEMBUKA MATA HATIKU (Sebuah catatan reflektif mengikuti acara perpisahan kelas IX, SMPN 7 Maret Hadakewa, Sabtu, 5 Mei 2023)

Oleh: Maria Agustina Daten, A.Md.Pust (Pustakawati SMPN 7 Maret Hadakewa)

Saya seorang pustakawan. Sudah sekian tahun, saya menggeluti dunia kepustakaan di SMP Negeri 7 Maret Hadakewa. Setiap hari, pekerjaan saya adalah sealu memastikan layanan buku-buku bacaan maupun buku pelajaran kepada setiap murid. Tidak jarang juga, saya memfasilitasi teman-teman guru yang membutuhkan referensi tambahan berupa buku-buku di perpustakaan. Sudah tentu, buku, rak buku, siswa dan guru adalah sahabat terbaik saya setiap hari. Lebih dari itu, saya merasa lebih mengenal mereka satu per satu dari sudut pandang saya ketika berinteraksi dengan mereka di perpustakaan sekolah.

Hari Sabtu, tanggal 5 Mei 2023 kemarin saya mengikuti acara ramah-tamah perpisahan bersama siswa kelas IX dan orang tua/walinya di sekolah. Bagi saya, angkatan ini merupakan angkatan yang istimewa. Mengapa? Sebab mereka mengalami kurang lebih dua tahun masa Belajar Dari/Di Rumah (BDR) yakni di tahun 2020-2022 akibat pandemi covid-19 dan satu tahun belajar tatap muka bersama guru di kelas. Dari sisi layanan kepustakaan, mereka juga merupakan para siswa yang paling minim mendapatkan pelayanan di perpustakaan sekolah.

Satu tahun belajar aktif dan interaktif bersama guru di kelas untuk menentukan kualitas pendidikan secara keseluruhan (3 tahun) efektif kah? Saya kira tidak. Itulah sebabnya dalam banyak hal para siswa angkatan kehilangan banyak ha-hak dasar mereka, terutama hak mendapatkan ilmu dan pengajaran sesuai amanat undang-undang. Mereka kehilangan masa-masa belajar dan bermain selama kurang lebih dua tahun. Mereka kehilangan waktu-waktu bersosialisasi bersama teman-teman dan guru-guru di sekolah. Mereka kehilangan kesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan lingkungan belajar dan nsegala isinya di sekolah. Meskipun pemerintah menjamin adanya solusi-solusi efektif belajar di masa pandemi covid-19, namun bagi sayayang adalah seorang pustakawan sekaligus ibu rumah tangga, dua tahun belajar mandiri dan satu tahun belajar tatap muka di sekolah jelas menghasilkan generasi yang sangat lamban.

          Para siswa kelas IX angkatan 2019-2023 merupakan angkatan yang paling banyak mendapatkan stigma atau label kurang baik di setiap capaian belajarnya, baik itu dari aspek pengetahuan maupun aspek sikap sosial dan spiritualnya. Entah di rumah maupun di sekolah sering kita dengar begitu banyak label atau cap itu diberikan kepada mereka. Misalnya, dasar siswa bodoh, dasar angkatan ternakal, dasar angkatan covid-19, dasar didikan guru karbitan, dan masih banyak lagi cap yang diberikan atas mereka. Dalam tataran kita sebagai orang dewasa, pemberian cap seperti  ini kepada anak-anak usia sekolah barangkali dirasakan sebagai hal yang biasa. Ada yang melakukan hal ini dengan dalih mendidik, bahkan ada juga berdalih sebagai bentuk motivasi dan cemeti untuk maju. Namun apakah dasar pikir atau dalih yang dipakai oleh orang dewasa ini dirasakan sama persis dalam alam pikir seorang anak? Saya kira sangat berbanding terbalik. Anak justru merasa sangat terbebani bahkan terbunuh akibat sekian macam cap yang diberikan kepada mereka.

          Anak dalam dunianya yang bersih dan lurus, tentu  akan menolak segala bentuk perlakuan diskriminatif terhadap mereka. Hal paling nyata yang dapat diamati misalnya adanya sikap apatis, protes, memberontak, berteriak bahkan melakukan aksi-aksi ekspresif dengan tujuan menolak. Tak jarang di rumah maupun di sekolah, perilaku mereka akan terlihat sangat “tidak terdidik dan tidak terpuji”. Mereka mau memberontak secara masif, namun mereka tidak punya power. Itulah anak-anak. Kita, selaku orang tua maupun guru lebih banyak tetap merasa nyaman dari posisi kita. Kita adalah orang tua, dan mereka hanyalah seorang anak. Ini sangat disayangkan.

          Kegelisahan saya terhadap segala situasi pendidikan khusus di angkatan kelas IX tahun ini akhirnya terjawab. Melalui pementasan Teatrikal Puisi yang dibawakan oleh anak-anak kelas IX yang akan ditamatkan tahun ini, benar-benar menyadarkan saya. Muka saya sebagai seorang ibu di rumah maupun seorang tenaga kependidikan di sekolah merah seketika. Saya menyesal, sedih, terharu dan marah terhadap diri, sikap hidpu dan cara pandang saya secara pribadi kepada anak-anak selama ini. Karya Teatrikal Puisi “Kami Bukan Angkatan Covid-19” pada akhirnya baik membunuh saya. Analoginya, pisau dan belati yang selama ini berada di ujung lidah dan tangan saya untuk mengeluarkan segala macam cap dan label pada anak-anak ini, berbalik me-labeli diri saya sendiri.

          Penyesalan memang selalu datangnya kemudian, namun tidak ada salahnya jika diambil hikmahnya untuk berbenah. Barangkali prinsip inilah yang mesti saya pakai dalam membimbing dan menuntun anak-anak saya di sekolah, melalui bidang kerja saya sebagai seorang pustakawan. Ada beberapa point penting yang dapat saya ambil dibalik aksi anak-anak kelas IX dalam melantunkan segala bentuk protes dan gugatan yang keras kepada kami para pendidik dan kependidikan. Pertama, mendidik dan melayani anak harus dengan hati.  Aksi teatrikal anak-anak dalam panggung pentasan kemarin menampar muka kita selaku GTK di sekolah untuk harus memberikan segala macam layanan dengan hati. Kurangi megeluh dan mengeluh setiap waktu. Bahwa tantangan dalam memberikan pelayanan pasti ada. Tetapi harus dicarikan akar masalahnya dan temukan solusi terbaiknya. Bukan langsung ‘mengkambing-hitamkan’ anak selaku pihak yang menjadi penyebab dan harus disalahkan.Hanya GTK yang melakukan layanan pendidikan dengan hati yang selalu ada di hati anak-anak, apapun itu kondisinya.

          Kedua, dalam situasi apa dan bagaimanapun, jadilah GTK inspiratif. Menjadi guru dan tenaga pendidikan yang inspiratif bukan hal yang mudah. Status ini hanya bisa dimiliki oleh mereka yang selalu melakukan refleksi demi relfeksi diri setiap saat demu kesempurnaan sikap dan perilaku. GTK inspiratif punya aura positi yang sangat kuat. Mereka akan digugu dan ditiru. Mereka akan selalu dirindukan kehadirannya setiap waktu oleh para murid. Hal sederhana yang paling mungkin dilakukan adalah selalu ada di samping mereka di saat mereka membutuhkan kita.

          Ketiga, Semua kita tidak bisa menahan cepat dan masifnya penyebaran virus covid-19 kala itu. Namun, di balik petaka ini, justru kita dituntut untuk menguasai hal-hal baru yang bersifat teknologi IT. Kita mesti meninggalkan paradigma belajar yang lama (konvensional) dan harus segera mengadaptasikan diri ke dalam setiap perubahan, terlebih terkait penggunaan segala macam teknologi pendidikan berbasis IT. Dengan menguasai konten-konten teknologi IT secara baik, maka kita akan jadi inspirator dan motivator bagi anak-anak didik untuk terus bergerak maju dalam dunia pendidikan. Ajarkan, tuntun dan didik mereka untuk jadi generasi bangsa yang berguna. Generasi yang sanggup meramu dan mengolah segala potensi yang ada dalam dirinya dan lingkungan sekitar untuk kebaikan dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, dan juga negara.

Demikian refleksi diri yang bisa saya buat setelah mengalami dan tenggalam dalam permainan emosi ketika menikmati suguhan terbaik anak-anakku kelas IX, angkatan yang paling banyak mendapatkan label miring, namun berhasil menggugat dan menghapus bersih semuanya dalam karya sastra yang kreatif. Bagi saya, kalianlah pemenangnya!

 ***

Komentari Tulisan Ini